Saturday, 3 January 2026

Kasus Ukraina dkk: Ketika Perang Menggerus Kekuatan Negara

Konflik bersenjata berkepanjangan hampir selalu meninggalkan jejak yang sama: runtuhnya kapasitas militer dan industri strategis sebuah negara. Dari Ukraina hingga Yaman, perang tidak hanya menghancurkan kota dan menelan korban jiwa, tetapi juga memutus kesinambungan pengetahuan, teknologi, dan kemampuan produksi pertahanan yang dibangun puluhan tahun.

Ukraina menjadi contoh paling mutakhir dari proses tersebut. Perang skala besar yang berlangsung sejak 2022 memaksa negara ini mengalihkan seluruh energi nasionalnya ke medan tempur, dengan konsekuensi serius bagi industri militernya sendiri. Banyak fasilitas produksi, galangan, dan pusat riset berada di bawah ancaman serangan atau harus direlokasi.

Sebelum konflik, Ukraina dikenal sebagai salah satu pewaris utama kompleks industri militer Uni Soviet. Negara ini memiliki kapasitas industri antariksa yang lengkap, termasuk pengembangan roket peluncur dan mesin roket yang menjadi tulang punggung banyak program luar angkasa internasional.
Perusahaan-perusahaan Ukraina memasok komponen vital untuk industri antariksa global. Amerika Serikat dan negara Barat lainnya selama bertahun-tahun membeli mesin roket dan teknologi pendukung buatan Ukraina, sebuah pengakuan terhadap mutu industri strategis negara tersebut.

Namun perang memukul keras sektor ini. Jalur pasok terputus, tenaga ahli terserap ke sektor militer darurat, dan fasilitas produksi menjadi sasaran risiko tinggi. Program antariksa yang dulu menjadi kebanggaan nasional kini praktis berhenti atau berjalan sangat terbatas.

Di sektor maritim, kemunduran serupa terjadi. Ukraina pernah memiliki armada kapal selam, warisan langsung dari era Soviet. Kini, kemampuan tersebut tidak lagi ada, baik secara operasional maupun industri pendukungnya.

Lebih jauh ke belakang, Ukraina pada masa Soviet mampu membangun kapal induk raksasa. Galangan di Mykolaiv pernah memproduksi kapal-kapal terbesar Angkatan Laut Soviet. Hari ini, kemampuan itu tinggal catatan sejarah, tergerus oleh perubahan geopolitik dan konflik berkepanjangan.

Pola ini bukan monopoli Ukraina. Serbia mengalami nasib serupa setelah runtuhnya Yugoslavia. Pada masa federasi Yugoslavia, industri pertahanan negara itu tergolong maju, mampu memproduksi pesawat tempur, kendaraan lapis baja, hingga sistem rudal secara mandiri.

Perang Balkan, sanksi internasional, dan fragmentasi politik memukul industri tersebut. Serbia modern masih mempertahankan sebagian kapasitas pertahanan, tetapi jauh dari skala dan kompleksitas era Yugoslavia.

Irak juga mencerminkan kisah yang sama. Pada dekade 1980-an, Baghdad memiliki ambisi teknologi tinggi, termasuk program antariksa dan upaya meluncurkan satelit sendiri. Konflik beruntun, dari perang Iran–Irak hingga invasi AS, menghancurkan fondasi tersebut.

Sanksi internasional dan kehancuran infrastruktur membuat program-program strategis Irak berhenti total. Industri pertahanan yang dulu berkembang pesat berubah menjadi bayang-bayang masa lalu.
Suriah memberikan contoh lain. Negara ini pernah memiliki kapal selam dan armada laut yang relatif signifikan di kawasan Mediterania Timur. Perang saudara yang berkepanjangan menggerus kemampuan tersebut hingga nyaris lenyap.

Libya mengalami nasib tak jauh berbeda. Di era Muammar Gaddafi, Tripoli memiliki kapal selam dan angkatan bersenjata yang cukup modern untuk ukuran Afrika Utara. Setelah konflik dan intervensi asing, struktur militer Libya terfragmentasi dan kehilangan kapasitas strategisnya.

Yaman menambah daftar panjang negara yang kehilangan kemampuan militernya akibat konflik. Di masa lalu, Yaman mampu memproduksi kapal tempur kecil dan mengelola industri perawatan militer dasar secara mandiri.

Perang berkepanjangan menghancurkan kemampuan itu. Fasilitas rusak, tenaga teknis tercerai-berai, dan fokus bergeser dari pembangunan ke sekadar bertahan hidup. Kapasitas produksi kini hampir sepenuhnya lenyap.
Somalia bahkan lebih ekstrem. Negara ini pernah memiliki angkatan udara yang berfungsi penuh pada era negara kuat. Runtuhnya pemerintahan pusat dan konflik berkepanjangan membuat seluruh kemampuan itu tinggal kenangan.

Kesamaan dari semua kasus ini adalah satu: perang memutus rantai regenerasi teknologi. Ketika insinyur, teknisi, dan ilmuwan pergi atau terbunuh, kemampuan tidak mudah dibangun kembali meski konflik berakhir.

Industri militer tidak hanya soal senjata, tetapi soal ekosistem pengetahuan, pendidikan, dan stabilitas politik. Sekali ekosistem itu runtuh, pemulihannya memakan waktu puluhan tahun.
Dari Ukraina hingga Yaman, sejarah menunjukkan bahwa konflik bukan hanya mengubah peta politik, tetapi juga menghapus capaian strategis yang dibangun lintas generasi.

Bagi negara-negara yang masih bergulat dengan perang, pelajaran ini menjadi peringatan keras. Setiap tahun konflik berarti satu langkah lebih jauh dari kemampuan mandiri, dan satu langkah lebih dekat pada ketergantungan permanen.

0 comments:

Post a Comment