Saturday, 10 January 2026

Mahmoud al-Subaihi Kembali ke Pusat Kekuasaan di Yaman

Kedatangan Letnan Jenderal Mahmoud Ahmed Salem al-Subaihi ke Arab Saudi pada awal pekan ini menarik perhatian luas kalangan politik dan militer Yaman. Sosok senior Angkatan Bersenjata Yaman itu disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk menduduki jabatan Menteri Pertahanan pada fase transisi yang sangat sensitif bagi negara tersebut.

Al-Subaihi bukan nama baru dalam dinamika keamanan Yaman. Ia dikenal sebagai figur militer berpengalaman yang memiliki rekam jejak panjang, baik dalam struktur pertahanan negara maupun dalam operasi keamanan berskala besar. Di tengah kebuntuan politik dan fragmentasi militer, namanya kembali mengemuka sebagai simbol kemungkinan konsolidasi.

Lahir pada 1948, Mahmoud al-Subaihi merupakan bagian dari generasi perwira yang dibentuk pada era Perang Dingin. Ia menerima pendidikan dan pelatihan militer lanjutan di Uni Soviet, sebuah latar belakang yang memberinya pemahaman mendalam tentang strategi konvensional dan struktur komando modern.

Karier militernya mencakup kepemimpinan sejumlah brigade besar serta peran sentral dalam operasi kontra-terorisme. Pengalaman ini menjadikannya salah satu perwira paling matang dalam membaca medan konflik yang kompleks, terutama di wilayah selatan dan tengah Yaman.

Nama al-Subaihi semakin dikenal publik ketika ia menjabat Menteri Pertahanan pada masa Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi, sejak November 2014 hingga Januari 2015. Masa jabatannya berlangsung singkat, namun berada pada periode paling krusial menjelang pengambilalihan institusi negara oleh kelompok Houthi.

Setelah pengambilalihan tersebut, al-Subaihi mengundurkan diri dari pemerintahan Perdana Menteri Khaled Bahah. Ia kemudian memimpin pasukan loyalis pemerintah di selatan Yaman, sebuah langkah yang menempatkannya langsung di garis depan konflik bersenjata.

Pada 2015, al-Subaihi ditangkap oleh kelompok Houthi. Penangkapannya menandai babak baru yang kelam dalam perjalanan hidupnya, ketika ia harus menjalani masa penahanan lebih dari delapan tahun sebagai tawanan perang.

Selama masa penahanan itu, namanya tetap hidup dalam wacana politik Yaman. Banyak pihak memandangnya sebagai simbol perwira negara yang setia, sekaligus korban dari runtuhnya tatanan institusional akibat konflik berkepanjangan.

Pembebasannya pada April 2023 disambut sebagai momentum penting, tidak hanya bagi keluarganya tetapi juga bagi kalangan militer nasionalis Yaman. Ia kembali ke ruang publik pada saat negara masih terpecah dan struktur militernya terfragmentasi.

Pada Mei 2024, Presiden Rashad al-Alimi selaku Ketua Dewan Kepemimpinan Presiden menunjuk al-Subaihi sebagai Penasihat Urusan Pertahanan dan Keamanan. Dalam waktu bersamaan, ia dipromosikan ke pangkat letnan jenderal, memperkuat posisinya dalam hierarki militer.

Penunjukan tersebut dipandang sebagai sinyal politik. Al-Subaihi dianggap memiliki kredibilitas lintas faksi, terutama karena ia tidak terikat langsung dengan kekuatan milisi regional yang kini mendominasi medan keamanan Yaman.

Di tengah spekulasi pengangkatan sebagai Menteri Pertahanan, al-Subaihi berada pada persimpangan sejarah. Ia berpotensi menjadi figur yang mengawasi transisi damai melalui negosiasi dengan Houthi, sebuah skenario yang masih rapuh dan penuh ketidakpastian.

Namun, ada pula kemungkinan lain yang tidak kalah signifikan. Al-Subaihi dapat menjadi arsitek konfrontasi baru jika jalur politik menemui jalan buntu, memimpin upaya militer melawan kelompok yang pernah menahannya selama bertahun-tahun.

Dalam jangka pendek, tantangan terbesarnya bukanlah medan tempur, melainkan restrukturisasi. Yaman saat ini memiliki beragam kekuatan bersenjata regional yang bersaing, dengan loyalitas dan struktur komando yang berbeda-beda.

Tugas utama calon Menteri Pertahanan ke depan adalah menyatukan kekuatan-kekuatan tersebut di bawah satu komando nasional. Proses reintegrasi ini dipandang sebagai prasyarat mutlak bagi stabilitas jangka panjang.

Peran al-Subaihi dinilai krusial karena latar belakangnya sebagai perwira profesional, bukan pemimpin milisi. Ia dipersepsikan lebih dekat dengan institusi negara dibandingkan kepentingan regional atau ideologis tertentu.

Di kalangan pengamat, kehadirannya di Arab Saudi juga dibaca sebagai bagian dari koordinasi intensif dengan mitra regional, khususnya dalam memastikan bahwa transisi keamanan Yaman berjalan terkendali.

Arab Saudi sendiri memiliki kepentingan besar terhadap stabilitas Yaman, terutama di tengah dinamika Laut Merah dan ancaman lintas batas. Figur seperti al-Subaihi dinilai dapat menjadi mitra yang dapat dipercaya.

Meski demikian, tantangan politik internal tidak kecil. Fragmentasi elit, ketidakpercayaan antar faksi, dan luka konflik yang belum sembuh menjadi ujian nyata bagi kepemimpinannya kelak.

Apakah Mahmoud al-Subaihi akan dikenang sebagai Menteri Pertahanan yang menyatukan Yaman atau sebagai jenderal yang kembali ke medan perang, masih menjadi tanda tanya. Yang jelas, kembalinya ia ke pusat panggung menandai babak baru dalam perjalanan panjang konflik Yaman.

0 comments:

Post a Comment